Warisan WE NEXUS: Ketangguhan yang Tertuang dalam Kebijakan Sigi

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image

Jumat, 30 Januari 2026

Warisan WE NEXUS: Ketangguhan yang Tertuang dalam Kebijakan Sigi


Program WE NEXUS di Kabupaten Sigi telah melampaui target proyek, bertransformasi menjadi sebuah gerakan pembelajaran kolektif yang mengakar. Selama dua tahun, kolaborasi antara Karsa Institute, CARE Indonesia, Pemkab Sigi, dengan dukungan UN Women dan KOICA, berfokus pada pemberdayaan kelompok kunci—perempuan dan pemuda—di enam desa. Asisten I Setda Sigi, Anwar, menegaskan pentingnya ruang refleksi ini, "Forum pembelajaran ini menjadi ruang strategis agar hasil program tidak berhenti sebatas laporan, melainkan bertransformasi menjadi kebijakan yang aplikatif." Hasilnya bukan hanya peningkatan kapasitas individu, melainkan penguatan struktur sosial dan ekonomi komunitas, yang ditandai dengan tumbuhnya Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) dan terbentuknya jejaring pemuda lintas desa sebagai agen perdamaian.

Capaian riil terlihat dari kehidupan warga. KUEP, seperti di Desa Ramba, telah berkembang dengan modal kolektif mencapai Rp46,85 juta, memberikan akses keuangan yang adil dan membuka peluang usaha baru. Edukasi kesetaraan gender yang menyertai program ini turut mengubah dinamika rumah tangga dan mendorong partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan di desa, yang berpuncak pada ditetapkannya delapan desa sebagai Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA). Sementara itu, pemuda yang sebelumnya jarang terlibat, kini aktif merajut kohesi sosial dan mencegah konflik melalui inisiatif bersama.

Untuk memastikan dampak ini berkelanjutan, Pemkab Sigi bersama mitra menggelar Workshop Pembelajaran sebagai momentum kritis. Filosofi pendekatan ini dijelaskan oleh CEO CARE Indonesia, Dr. Abdul Wahib Situmorang, "Pendekatan WE NEXUS menggabungkan prinsip kemanusiaan, pembangunan, dan perdamaian sebagai satu kesatuan. Ia menempatkan manusia sebagai pusat tanpa membedakan latar belakang." Rene Picasso, Manajer Climate Resilience and Humanitarian Portfolio, menekankan bahwa forum ini dirancang sebagai ruang terbuka, "Forum ini menjadi ruang refleksi bersama. Kita melihat apa yang sudah berjalan baik, apa tantangan yang dihadapi, serta pembelajaran penting dari implementasi pendekatan WE Nexus di Kabupaten Sigi." Tujuannya jelas: agar praktik baik dari program tidak berhenti saat pendanaan selesai, tetapi dapat diadopsi dan diintegrasikan ke dalam perencanaan dan penganggaran daerah maupun desa.

Komitmen pemerintah daerah menjadi penopang utama. Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, menegaskan bahwa kolaborasi ini sejalan dengan visi pembangunan kabupaten yang berpusat pada manusia. Dukungan ini diperkuat oleh jajaran OPD, dimana DP3A Sigi mengakui kontribusi program dalam mendukung target Kabupaten Layak Anak. Di sisi lain, Ketua Dewan Pengurus Karsa Institute, Rahmat Saleh, menjelaskan strategi keberlanjutan, "Kelembagaan yang terbentuk, seperti KUEP dan forum pemuda, telah mendapat dukungan pemerintah desa dan akan terus didukung melalui perencanaan desa serta pendampingan teknis dinas terkait."

Pada akhirnya, perjalanan WE NEXUS di Sigi memberikan sebuah blueprint berharga. Program ini membuktikan bahwa ketangguhan komunitas yang inklusif dan sensitif konflik dapat dibangun secara sistematis melalui kolaborasi genuin. Jejak yang ditinggalkannya adalah lebih dari sekadar laporan; ia adalah paradigma baru, metode yang teruji, dan seperangkat kebijakan yang diharapkan dapat direplikasi, membawa Sigi menuju pemulihan dan pembangunan yang lebih berkelanjutan dan merata untuk semua warganya.*Karins











Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage
Karsa Institute (KARSA Inisiatif Timur Indonesia) | |